Tirta Empul adalah nama sebuah pura yang terletak di kecamatan Tampak Siring. Menurut catatan sejarah, bangunan ini didirikan sekitar pada tahun 962 Masehi pada masa pemerintahan Dinaswi Warmadewa. Tirta Empul Temple juga merupakan salah satu peninggalan dari kisah Mayadenawa.

Dikisahkan bahwa Mayadenawa, seorang raja sakti yang memiliki sifat jahat. Hingga suatu ketika Dewa Indra mengirim pasukan untuk menghancurkan Mayadenawa. Perang ini berakhir dengan kekalahan Mayadenawa yang kemudian melarikan diri ke hutan.

Lalu Mayadenawa menciptakan mata air beracun dan berhasil membunuh sebagian pasukan Dewa Indra. Sang Dewa akhirnya menciptakan mata air penawar racun dan diberi nama Tirta Empul yang berarti air suci. Inilah latar belakang kemunculan Pura Tirta Empul.

Baca juga : Destinasi Wisata Devil Tears Nusa Lembongan

Tirta Empul Temple Bali terbagi menjadi tiga bagian yaitu Jaba Pura, Jaba Tengah dan Jeroan. Pada bagian Jaba Tengah terdapat sebuah kolam yang memiliki 33 pancuran. Beberapa pancuran juga mempunyai nama sesuai dengan fungsi dan manfaatnya. Pancuran tersebut antara lain 14 pancuran Tirtha Pembersihan, 2 Tirtha Peleburan Kutukan dan Sumpah, 6 pancuran Tirtha Penyakit Berat dan Tirtha Upakara. Lokasi ini biasanya ramai dengan antrian pengunjung yang ingin ikut melakukan tradisi melukat.

Melukat merupakan sebuah tradisi masyarakat Bali berupa aktivitas penyucian di Tirta Empul Bali tepatnya di kolam Jaba Tengah. Tradisi ini banyak diminati oleh pengunjung mulai dari wisatawan domestik hingga wisatawan asing.

Melukat dipercaya memiliki banyak manfaat oleh masyarakat Hindu Bali. Kegiatan ini dapat mengobati jenis penyakit, seperti sakit gigi rematik dan asam urat. Tak hanya itu, beberapa orang juga meyakini, melukat dapat melancarkan rezeki dan membantu pengunjung menemukan jodoh secepatnya. Saat melakukan ritual suci ini pengunjung diharuskan menyampaikan permohonan dan doa dengan menangkupkan kedua tangan.

Namun untuk mengikuti upacara tradisi Melukat di Tirta Empul Ubud, para pengunjung harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh pihak pura. Di antaranya meletakkan canang di atas pancuran dan memakai kain kamen yang diikat-kan pada bagian pinggang. Selain itu, pengunjung perempuan yang sedang haid juga tidak diperkenankan masuk ke kawasan pura.

Bagi pengunjung Tirta Empul Tampak Siring yang membawa keluarga, termasuk anak kecil dapat bersenang-senang dengan memberi makan ikan yang ada di kolam. Akan tetapi tetap harus dengan pengawasan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here